Welcome to MY OFFICIAL BLOG diary. This blog contains about my outpouring of my heart and also my little notes.

If you come and I am pleased to read this note, please give comments that are useful to me.



By : Pricillia Putri

Friday, 14 June 2013

Kembali Kepelukan Bulan PART 1


Sebuah cerpen yang mengisahkan seorang anak perempuan yang pandai bernama " DHEA ", dari keluarga yang sederhana dan religius. Namun ketika dewasa Dhea menjadi anak yang liar karena menjadi seorang model. Lalu bagaimana dengan ibunya yang sangat muslimah dan taat beribadah ?
Jangat lewatkan cerpen yang sangat mengaharukan ini.

" Bu, coba lihat bulannya, bagus ya ? Besar, separuh, warnannya kuning. Seperti buah semangka ya ? "
" Loh, buah semangkan kan kulitnya hijau dan dagingnya berwarna merah ? "
" Tapi Dhea pernah makan buah semangka yang dalamnya berwarna kuning Bu ! "

Aku tersenyum mendengar jawaban Dhea. Aku masih ingat betul percakapan tentang Bulan itu. Dua puluh tahun yang lalu, ketika Dhea masih lima tahun. Sejak kecil ia memang cerdas, selera sastranya juga bagus. Di usia itu aku sering mengintip buku kecilnya, ia pandai bercerita. Meskipun bahasanya sederhana tapi cukup indah untuk ukuran usianya. Aku bisa menangkap bakatnya.
Pagi masih buta....
 " Mi, Dhea berangkat. Sudah ditunggu Bos "
Mami, seperti itu Dhea memanggil ku sekarang. Tidak ada lagi Dhea yang imut. Dia sudah tumbuh menjadi wanita cantik, cerdas dan fashionable. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah aku ajarkan padanya. Kini tak ada lagi panggilan Ibu.
  " Masih jam 4.30 sayang, kamu shalat subuh dulu lah. "
" Waduh.... enggak mi... ini udah telat. Jam 6 harus sudah Take Off, Bos bisa marah nanti. Udah mi aku berangkat dulu. "
Dhea berkata sambil berlari tergesa-gesa. Seolah ada yang mengejarnya, atau seperti pelari yang takut didahului lawannya sampai digaris finish. Tidak ada salam ataupun sekedar cium tangan seperti masa kanan-kanak dulu.

Aku hanya bisa menagis dalam hati. Anakku tidak mau lagi menjalankan kewajibannya. Ya, seperti dia tidak mau shalat lagi. Kenyataan itu baru kuketahui saat ia pulang ke Surabaya seminggu lalu. Selalu saja ada alasan, dan payahnya aku tak bersaya melawan. Dia anak ku satu-satunya, milik ku satu-satunya sejak ayahnya pergi meninggalkan dunia fana, saat ia masih sekolah dasar. Atas nama tidak tega dan tidak mau kehilangan, aku membiarkannya. Meski sebenarnya hati ini sungguh tak rela.

Sejak lulus SMA, Dhea memilih dunianya sendiri. Aku hanya menyuruhnya melanjutkan ke Perguruan Tinggi, tetapi ia bersikeras untuk bekerja membantu ekonomi kami. Mulanya ia hanya menjadi SPG di dealer mobil-mobil mewah. Sudah tentu harus cantik dan berpakaian seksi. Tak berapa lama seorang pencari talent menagkap bakatnya. Dia diajak bergabung menjadi anggota model agency.  Dia menerima dan aku menolak, tetapi dia berkeras hati. Cita - citanya menjadi penulis menguap sudah.

Sejak saat itu, kehidupan ekonomi kmi mapan. Rumahku sudah besar dan cukup mewah. Seandainya aku meminta apapun, ia pasti akan meluluskannya. Tetapi ternyata kemapanan ini tidak berlaku untuk sisi rohani. Padahal usia ku semakin menua, tubuh semakin ringkih dimakan usia. Sungguh aku takut, yang aku punya hanya Dhea sekarang. Siapa lagi yang aku harapkan untuk mendoakan ku selain dia, kelak ketika Allah SWT memanggil ku.

Dhea tak boleh semakin menjauh, dia harus segera kembali. Malam - malam kuhabiskan dengan air mata membahasi sajadah panjang ku. Aku tak mau kehilangan yang jauh lebih berharga. Apalah artinya hidup berkelimangan harta jika tak tentram ?


" Bersambung ke Kembali Kepelukan Bulan PART 2 "

Terimakasih Sudah Menyimak Artil Pricillia. Jika Anda menyukai Artikel Blog Pricillia, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel Menarik Setiap hari dari Diary Pricillia

0 komentar:

Post a Comment